Hai.

Sesumbar warna cerah memenuhi rongga dada. Kemilau bagai permukaan air laut di malam hari. Itu dua hari yang lalu. Sebelum hujan melunturkannya hari ini. Serta angin kencang yang membawa terbang serat bibir manisnya.

Melihat itu, aku memaki sendirian. Mengutuk diri sendiri yang teledor atas satu hati yang memerah. Sampai kini, cukup bisa dimengerti setinggi mana bunga itu tumbuh. Dan harusnya aku sendiri tahu bagaimana membuatnya berhenti. 


                                                           Jepara, 2020.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bingkisan Coklat

Dua Sisi

Tidak Ada Obat Rindu, Kecuali Bertemu